Kampus yang Sunyi dari Keteladanan
"Kampus yang Sunyi dari Keteladanan"
Kampus seharusnya menjadi ruang paling aman bagi lahirnya pikiran-pikiran yang jujur. Tempat di mana bertanya tidak dicurigai, berbeda pendapat tidak dianggap ancaman, dan kritik diperlakukan sebagai bagian dari proses ilmiah. Namun hari ini, di banyak ruang akademik, suara mahasiswa justru kerap dipelankan, bahkan dipadamkan. Bukan karena mereka tak berpikir, melainkan karena berpikir dianggap mengganggu ketertiban.
Dalam relasi yang timpang antara dosen dan mahasiswa, pendapat sering kali tidak lagi diperdebatkan, melainkan dihakimi. Ketika mahasiswa menyampaikan argumen, yang muncul bukan dialog, tetapi nada tinggi. Bukan bantahan ilmiah, tetapi otoritas jabatan. Kritik dipersonalkan, perbedaan dipersempit, dan ruang diskusi berubah menjadi ruang pembenaran sepihak.
Ironisnya, pembungkaman ini sering hadir atas nama etika dan sopan santun. Mahasiswa diminta “tahu posisi”, “jangan melawan”, atau “jangan terlalu kritis”. Kampus yang seharusnya mengajarkan kebebasan berpikir justru melatih kepatuhan tanpa nalar. Di sinilah pendidikan kehilangan maknanya—ketika keheningan diproduksi secara sistematis.
Lebih menyedihkan lagi, ketika dosen—yang seharusnya menjadi penjaga dialog—menutup diri dari kritik dan merasa terancam oleh perbedaan pandangan. Ilmu tidak lagi menjadi alat pencarian kebenaran, tetapi tameng untuk mempertahankan ego. Mahasiswa diposisikan bukan sebagai mitra intelektual, melainkan sebagai pihak yang harus tunduk dan diam.
Situasi ini menciptakan iklim akademik yang tidak sehat. Mahasiswa belajar satu hal yang keliru: bahwa menyuarakan pendapat memiliki risiko, bahwa kejujuran berpikir harus disimpan, dan bahwa aman berarti diam. Padahal kampus tanpa perdebatan hanyalah institusi administratif, bukan ruang keilmuan.
Tulisan ini bukan ajakan untuk melawan tanpa etika, melainkan seruan untuk mengembalikan marwah dialog akademik. Dosen tidak kehilangan wibawa ketika menerima kritik; justru di situlah keteladanan itu lahir. Ketika dosen bersedia mendengar, berdiskusi, dan mengakui kemungkinan keliru, kampus kembali menjadi ruang pembelajaran yang manusiawi.
Sebab pendidikan bukan tentang siapa yang paling berkuasa, tetapi siapa yang paling jujur dalam mencari kebenaran. Jika suara mahasiswa terus dibungkam, maka yang kita bangun bukanlah generasi berpikir, melainkan generasi patuh. Dan di situlah kampus benar-benar menjadi sunyi—sunyi dari keteladanan, sunyi dari keberanian intelektual.
Komentar
Posting Komentar