Postingan

“Amanah: Antara Eksistensi yang Tampak dan Esensi yang Bermakna”

Gambar
“Amanah: Antara Eksistensi yang Tampak dan Esensi yang Bermakna” Amanah bukan sekadar titipan, ia adalah cermin integritas. Amanah yang baik bukan hanya diterima, tetapi dijaga dengan kesungguhan, dirawat dengan perhatian, dan dipertanggungjawabkan dengan kesadaran. Ia tidak layak diperlakukan sebagai beban yang disepelekan, apalagi sekadar pelengkap dalam perjalanan menuju pengakuan. Namun ironisnya, tak sedikit yang lebih sibuk membangun panggung eksistensi daripada menanamkan nilai esensi. Mereka hadir untuk terlihat, bukan untuk berarti. Padahal sejatinya, amanah menuntut kedalaman, bukan sekadar kemunculan. Makna dari ungkapan ini adalah bahwa tanggung jawab tidak cukup hanya dijalankan secara formal atau demi citra. Amanah menuntut keseriusan, keikhlasan, dan komitmen yang utuh. Sebab pada akhirnya, yang dinilai bukan seberapa sering kita tampak, tetapi seberapa dalam kita memberi dampak. Lebih dari itu, amanah adalah ujian tentang siapa diri kita ketika tidak ada yan...

"Himpunan : Kumpulan Hati-hati Kecil Yang Harus Beriringan."

Gambar
Himpunan: Kumpulan Hati-Hati Kecil yang Harus Beriringan Sebuah himpunan bukan sekadar kelompok orang yang berkumpul dalam satu tempat atau satu nama. Himpunan adalah kumpulan individu—“hati-hati kecil”—yang masing-masing membawa pikiran, perasaan, harapan, dan perannya sendiri. Setiap orang di dalamnya mungkin terlihat kecil jika berdiri sendiri, tetapi ketika berjalan bersama, mereka membentuk kekuatan yang lebih besar. “Hati-hati kecil” di sini menggambarkan setiap anggota yang ada dalam himpunan. Mereka adalah bagian-bagian yang menyusun keseluruhan. Setiap orang memiliki cara berpikir yang berbeda, kemampuan yang berbeda, dan pengalaman yang berbeda. Namun justru perbedaan itulah yang membuat sebuah himpunan menjadi hidup dan berkembang. Agar himpunan dapat berjalan dengan baik, setiap “hati kecil” perlu bergerak beriringan. Beriringan bukan berarti selalu sama dalam segala hal, tetapi mampu berjalan dalam satu arah dan tujuan yang sama. Ada yang memimpin, ada yang men...

PK IMM ULM Banjarbaru: Rumah yang Kupeluk dengan Doa dan Kesetiaan

Gambar
PK IMM ULM Banjarbaru: Rumah yang Kupeluk dengan Doa dan Kesetiaan Belakangan ini aku sering bertanya pada diri sendiri, kenapa aku masih bertahan di PK IMM ULM Banjarbaru. Di tengah dinamika, kesibukan, dan lelah yang datang silih berganti, selalu ada satu rasa yang sulit dijelaskan. Rasa memiliki. Rasa ingin menjaga. Rasa yang membuat langkah ini tidak mudah untuk pergi. PK IMM ULM Banjarbaru bagiku bukan sekadar komisariat dengan agenda dan struktur organisasi. Ia adalah ruang belajar yang pelan-pelan membentuk caraku melihat orang lain. Di sini aku belajar bahwa perbedaan bukan sesuatu yang harus dihindari, tapi dirawat. Bahwa tidak semua hal harus dimenangkan, dan tidak semua perdebatan harus berakhir dengan siapa yang paling benar. Ada hari-hari ketika suasana tidak baik-baik saja. Ada jarak yang tercipta, ada kata-kata yang mungkin menyakitkan, ada sikap yang tidak selalu bisa kupahami. Namun justru di titik-titik itulah aku merasa komisariat ini hidup. Karena kami b...

Kampus yang Sunyi dari Keteladanan

Gambar
"Kampus yang Sunyi dari Keteladanan" Kampus seharusnya menjadi ruang paling aman bagi lahirnya pikiran-pikiran yang jujur. Tempat di mana bertanya tidak dicurigai, berbeda pendapat tidak dianggap ancaman, dan kritik diperlakukan sebagai bagian dari proses ilmiah. Namun hari ini, di banyak ruang akademik, suara mahasiswa justru kerap dipelankan, bahkan dipadamkan. Bukan karena mereka tak berpikir, melainkan karena berpikir dianggap mengganggu ketertiban. Dalam relasi yang timpang antara dosen dan mahasiswa, pendapat sering kali tidak lagi diperdebatkan, melainkan dihakimi. Ketika mahasiswa menyampaikan argumen, yang muncul bukan dialog, tetapi nada tinggi. Bukan bantahan ilmiah, tetapi otoritas jabatan. Kritik dipersonalkan, perbedaan dipersempit, dan ruang diskusi berubah menjadi ruang pembenaran sepihak. Ironisnya, pembungkaman ini sering hadir atas nama etika dan sopan santun. Mahasiswa diminta “tahu posisi”, “jangan melawan”, atau “jangan terlalu kritis”. Kampu...

Berdiaspora, Bukan Berjarak: Menjaga Ikatan di Tengah Ruang Kampus

Gambar
Berdiaspora, Bukan Berjarak: Menjaga Ikatan di Tengah Ruang Kampus Menjadi kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) bukan berarti membatasi langkah di satu ruang gerak. Justru sebaliknya, IMM sejak awal mendorong kadernya untuk berdiaspora, hadir di berbagai lini kehidupan kampus: organisasi kemahasiswaan, lembaga pers mahasiswa, komunitas riset, unit kegiatan mahasiswa, hingga ruang-ruang advokasi dan sosial. Diaspora adalah keniscayaan, bahkan kebutuhan. Namun, diaspora bukanlah alasan untuk berjarak. Bergerak di luar IMM boleh, melupakan IMM tidak. Di sinilah letak perbedaan antara kader yang berdiaspora dan kader yang tercerabut dari ikatannya sendiri. Kampus adalah medan pembelajaran yang luas. Di sana kader IMM bertemu dengan ragam gagasan, kepentingan, dan dinamika. Keterlibatan kader IMM di berbagai ruang strategis seharusnya menjadi perpanjangan nilai Ikatan, bukan sekadar pencapaian personal. Identitas kader tidak berhenti pada jas almamater atau jabatan struktur...